Kemarau Panjang Ancam Petani Padi Kuningan

Megapolindonesia.com

KUNINGAN – 2.404 hektare (ha) sawah di Kabupaten Kuningan terancam puso atau gagal panen akibat kemarau panjang. Jumlah ini berpotensi meningkat, jika hujan tak mengguyur wilayah Kabupaten Kuningan.

Ribuan hektare sawah petani yang terancam puso tersebar di 16 kecamatan, paling dominan berada di Kuningan bagian utara dan timur. Hampir 90% sawah yang terancam gagal panen merupakan sawah tadah hujan, sekaligus jauh dari sumber mata air.

Misalnya, di Kecamatan Maleber, ada sekitar 408 ha sawah kondisi tanahnya mengering dengan kategori ringan. Sementara kecamatan lain seperti Ciawigebang, kekeringan terjadi di 168 ha sawah kategori ringan, 129 ha sawah kategori sedang, dan 271 ha sawah kategori berat.

Kekeringan sawah kategori berat lainnya terjadi di Kecamatan Japara sebanyak 8 ha, Kecamatan Hantara mencapai 12 ha, dan Kecamatan Cigandamekar hanya 5 ha.

Plt Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Sohibul mengatakan, ribuan hektare sawah petani terdampak kekeringan yang berpotensi gagal panen merupakan sawah tadah hujan. Kekeringan itu tersebar di hampir 16 kecamatan, paling banyak di wilayah timur dan utara Kabupaten Kuningan.

“Kalau umur tanaman padinya masih dibawah 60 hari, ada kemungkinan puso. Tapi mudah-mudahan bisa turun hujan lah, kita hanya bisa berdoa, tapi ada informasi katanya Ciamis sudah turun hujan, mudah-mudahan disini juga segera turun hujan,” ungkapnya, Selasa (25/6/2019).

Akibat kekeringan yag terjadi, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya misalnya pemanfaatan pompa air dari sumber-sumber air seperti embung, sumur dalam, sumur dangkal, dan sungai-sungai.

“Tapi itu dilakukan terhadap lokasi sawah yang ada sumber airnya. Jika ada airnya tapi kecil, kita himbau kepada petani agar dimanfaatkan secara bergilir,” katanya.

Terpisah, salah seorang petani asal Cigandamekar, Mulya (58) menuturkan, kondisi kekeringan di Desa Jambugeulis Kecamatan Cigandamekar sudah berlangsung sejak 1,5 bulan terakhir. Dua aliran sungai yang melintasi areal persawahan di desa, sudah mengering sehingga berdampak pada kelangsungan pertanian.

“Kalau untuk menyedot air menggunakan pompa tidak mungkin, karena aliran sungai sudah kering. Akibatnya, seluruh lahan pertanian di desa kami kini mengalami kekeringan,” terangnya.

Ia mengaku, para petani di Desa Jambugeulis tahun ini mengalami kerugian dua kali. Pada musim penghujan para petani nyaris mengalami gagal panen, akibat curah hujan tinggi hingga merontokkan bulir padi.(RJN)

Ingin Tahu Lebih Banyak Soal Kota Bekasi?

Kami Kabarkan Berita Terbaru Seputar Kota Bekasi Langsung ke Gadget Anda.

Invalid email address
Anda Bisa Berhenti Berlangganan Kapan Saja Tanpa Biaya

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: