Para Ulama Angkat Bicara Soal Peristiwa Makam Hajirah

Megapolindonesia.com

BEKASI – Pasca mencermati pemberitaan “Kisah di Balik Kematian Hajirah Warga Manado Terdampar di Bekasi” KH Murhali Bardah, ulama tersohor Kota Bekasi, Jawa Barat, tampak terusik atas pemberitaan ganjil dan tak wajar tersebut. Tak pelak, para relawan pendamping Hajirah (34) wanita asal Manado, menghembuskan nafas terakhir terdampak TB Paru di Bangsal Tulip 10 Gedung C Lantai 4 RSUD Kota Bekasi, Jawa Barat, akhirnya memenuhi panggilan sang ustadz memberikan kesaksian, pada Sabtu (30/3/2019).

“Ini sangat urjen dan harus jadi perhatian semua. Besok besok relawan jangan percaya begitu saja, harus ada yang bertanya, sudah disholatkan atau belum. Relawan pun berdosa jika tidak ada seorang pun yang melaksanakan fardu kifayah ini. Dan seluruh warga Kota Bekasi berdosa, lantaran kelalaian, andai benar tidak menyolatkan Hajirah,”beber sang ustadz gamblang.

Paparan KH Murhali Bardah, via Whatsapp dan tatap muka mengisyaratkan pentingnya 4 (empat) hal terkait prosesi orang meninggal dunia, di antaranya tahap memandikan, mengkafani, mensholatkan, dan menguburkan. Terpenuhinya 4 fase fardu kifayah agar sah secara muslim.

Langkah bijak dan tegas, KH Murhali Bardah diambil tatkala mendengar kesaksian, tak seorang pun dari 15 orang yang berada di sekitar Ruang Pemulasaraan, melihat bahkan dilibatkan sholat jenazah.

Berdasarkan kesaksian para relawan inilah, mengusik bathin sang ustadz, ambil langkah melakukan sholat jenazah di makam Hajirah, pada Sabtu (30/3/2019) siang di TPU Pedurenan, Jalan Mandor Demong, Babakan Bondol, Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Seyogyanya yang meninggal di RSUD Kota Bekasi, jangan dibawa dulu mayat ke pemakaman sebelum disholatkan di masjid Al-Barkah. Setelah selesai baru dibawa ke pemakaman. Sedangkan, mayat itu harus tetap dibawa ke masjid Al Barkah. Secepatnya akan diusulkan, tapi realisasinya, wallahu a’lam, dia (wali kota) punya kebijakan sendiri,”imbuhnya.

Ditandaskan lebih lanjut, “Tapi ini saya mau tekankan sama dia (wali kota, red), ini jabatan dia terakhir, dia mau berbakti sama masyarakat dan harus ada kenang-kenangan, di masa terakhir dia menjabat. Kenang-kenangan terakhir yang bisa dikenang ya itu,”tegas KH Murhali Bardah.

“Artinya Bang Pepen memberikan hadiah yang baik dengan memerintahkan pengurus RSUD dan masjid Al Barkah, selalu berkoordinasi dan melaksanakan sholat mayyit (mayat) setiap selesai menunaikan sholat lima waktu. Hal ini akan selalu dikenang dan sebagai amal jariyah wali kota,”pesannya.

“Adapun tentang kompleks TPU (Tempat Pemakaman Umum) Pedurenan, jika memang bisa, harusnya dipisahkan kompleks pekuburan agama lain di lokasi yang berbeda lahan, wallahu a’lam. Untuk lahat disesuaikan ukuran tubuh mayat saja. Kondisional sifatnya. Lahat sebagai penahan jasad mayat agar tidak terlentang atau tengkurep.”

Data yang berhasil dihimpun megapolindonesia.com ada sekitar 15 orang yang berada di sekitar Ruang Pemulasaraan RSUD Kota Bekasi, Selasa (26/3) ketika dikabari Hajirah menghembuskan nafas terakhirnya, di antaranya Puskesmas, Dinsos Kota Bekasi, Relawan URC & Oscar, dan Kader Posyandu RT 01 RW 19 Taman Pulo Permataari (PPS) Pekayon Jaya, Bekasi Selatan.

Kesepakatan pun diambil setelah kontak komunikasi dengan kakak kandung Hajirah, bernama Nurlita biasa disapa Lita menyerahkan prosesi pemakaman pada tim. Terjadi pembicaraan antara kader Posyandu dengan Dinsos, puncaknya Ivy ponakan Hajirah menandatangani kesepatakan bahwa secara keseluruhan prosesi pemakaman di-handle Dinsos Kota Bekasi.

Rasa duka mendalam dan empati datang dari Emah, dari Infra OSCAR kemanusiaan, kembali mengisahkan pada tim megapolindonesia.com, Minggu (31/3/2019) malam. Kegundahan saat ikuti prosesi pemakaman Hajirah pun membuncah. Saat itu, dirinya mengaku tak terpikirkan. Hajirah dimakamkan di liang lahat, diperkirakan kedalaman 80 cm dan lebar 45 cm.

“Jujur saya sempat kaget, pemakaman itu benar benar nggak wajar, nggak manusiawi, ini makamin manusia bukan binatang. Ya Allah ya Robi, saya sempat nangis, tapi mau bagaimana lagi, miris lihat liang kuburnya, kan seperti biasa saya ikuti, idealnya 1 X 2 Meter, ini boro boro, buat masukin jenazah aja kerepotan, nggak ada adzan di liang lahat dan doa bersama dipimpin ustadz, layaknya pemakaman muslim,”sesalnya haru.

Ditandaskan lebih lanjut, “Seingat saya habis dimandikan, ditaruh di meja panjang dan masuk ambulance, kapan sholatinya, saya juga nggak lihat Hajirah disholatkan, terus saksi dan buktinya mana. Biasanya juga kalau mayat mau disholatkan, untuk nambah jamaah yang berhubungan dengan jenazah dipanggil.”

Sementara itu Ruang Pemulasaraan RSUD Kota Bekasi saat dikonfirmasi mengatakan telah mengikuti prosedural. “Semua jenazah yang tidak ada keluarganya diurus sesuai prosedur, termasuk mensholatkan. Dan, untuk mensholatkan jenazah, nggak perlu harus ijin dari tim relawan atau tim pendamping,”kilahnya.

Di tempat terpisah ustadz Arsyad asal Jaka Setia, Bekasi Selatan sempat protes cara memegang jenazah. Ketika dikonfirmasi mengatakan, “Saya belum tahu dalil ukuran panjang lebarnya, atau kedalamannya. Jangan terlalu dalam dan juga jangan cetek, tidak boleh lebih pendek dari mayat. Ulama sepakat kedalaman kira kira 1,5 meter dan jangan lebih dalam dari 2 meter. Jadi perhatian pokok unsur keamanan dan kesehatan. Dulu, mayat takut diambil binatang buas atau manusia buas. Yang kedua jangan sampai bau mayat keluar, mengganggu atau memancing kehadiran binatang buas, ”jelasnya.

Sementara itu ustadz Hamzah dari pengasuh ponpes di Pekayon Jaya mengatakan tak ada ketentuan baku mengenai hal itu. Jadi yang terpenting tidak terlalu dangkal sehingga bisa dirusak oleh binatang misalnya, dan tidak terlalu dalam sehingga merepotkan yang menggali kubur.”

Ketika melihat foto pemakaman Hajirah (34), dimakamkan pada Selasa (26/3/2019) tampaknya ustadz Hamzah protes. “Wah kalau orang dewasa menurut saya terlalu dangkal, tapi tetap sah, tidak haram, tidak ada adzan dan doa bersama di makam juga tak apa apa, karena yang wajib kifayah itu hanya empat saja mandiin, ngafani, nyolati, ngubur, wallahu a’lam,”urainya.

Setiap peristiwa menorehkan hikmah. Di balik kematian Hajirah, seakan membuka mata bagi kita, pentingnya jiwa empati dan kemanusiaan, terutama pihak keluarga yang memegang peran penting dan memiliki hubungan emosional terhadap Hajirah. Terlepas apapun persoalannya, rasa kasih sayang sejatinya puncak penghargaan, terbinanya hubungan keluarga dilandasi ikatan bathin yang dalam. Sesal kemudian tiada berguna begitu ungkapan bijak berkata.

Hajirah menghunjam intuisi kita, agar lebih arif dan bijak memuliakan makhluk Tuhan lainnya, karena tatkala kita kembali, hakekatnya kita sama di mata Tuhan, wallahu a’lam bishawab. (Red

Ingin Tahu Lebih Banyak Soal Kota Bekasi?

Kami Kabarkan Berita Terbaru Seputar Kota Bekasi Langsung ke Gadget Anda.

Invalid email address
Anda Bisa Berhenti Berlangganan Kapan Saja Tanpa Biaya

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: