Kisah Mbok Kresek 59 Tahun Harus Hidup Sambil “Ngesot”

Megapolindonesia.com

KEDIRI – Sang mentari tampak redup, enggan menyinari bumi. Rinai gerimis bagai alunan kehidupan dendangkan melodi senja. Sesosok anak manusia merangkum selaksa kisah dan elegi pergulatan.

Mbok Kresek begitu biasa disapa. Wanita berusia 59 tahun ini tampak tegar, meski mengukir keterbatasan. Tak terlukis, berat beban kehidupan. Dimatanya, hidup adalah realita.

Jangankan melihat kemilau dunia, hanya sekedar menyantap makanan demi kelangsungan hidupnya, Mbok Kresek bersyukur tiada tara. Mbok Kresek hidup tanpa anak dan pendamping hidup, di penghujung senja usianya. Wanita cacat fisik sejak kecil ini, hanya mampu menatap penuh nanar, nuansa disekelilingnya.

Kerap matanya membeliak menatap tajam, di balik pintu yang dipasang penutup kayu. Mbok Kresek tinggal di kawasan pedesaan, jauh dari hiruk pikuk kota, tepatnya di Dusun Beringin RT 002 RW 09, Desa Mojokerep, Plemahan, Kediri, Jawa Timur.

“Setiap hari Mbok Kresek dikasih makan sama Bulik Mukilah, kalau nggak ada yang ngasih ya nggak makan. Boro boro kerja atau masak, jalannya saja ngesot,”tukas Santoso saat dikonfirmasi megapolindonesia.com.

Hampir 59 tahun Mbok Kresek hanya mampu beringsut ngesot, pindah tempat dengan cara lincah menggerakkan kedua tangannya, menopang tubuhnya, sementara kedua kakinya diseret. Pasalnya kedua kakinya tak berfungsi, mengalami kelumpuhan sejak kecil.

“Ya begitulah Mbok Kresek, meski dalam keterbatasan tetap tegar. Hari harinya ya seperti itu, seingat saya kisah Mbok Kresek dimulai sejak sekitar umur 6 bulan,”urai Santosa yang sempat menyambangi Mbok Kresek beberapa waktu silam.

Ditandaskan, dulu sejak Mbok Kresek masih kecil, ia kerap ditaruh di sebuah lubang kecil semacam galian oleh orang tuanya, bertujuan agar tidak pergi. Itu dilakukan oleh orang tuanya hampir setiap hari, ketika orang tuanya hendak pergi ke sawah. Ya, mungkin karena lubangnya terlalau kecil menyebabkan Mbok Kresek masa kecil, tak bisa bergerak, berdampak tak bisa berfungsi. Hingga saat ini kedua kakinya yang bengkok hanya bisa diseret saat ia mau pindah tempat,”imbuhnya.

Dalam kemiskinan dan keterhimpitan hidup tak serta merta Mbok Kresek mengeluh. Keceriaan tetap terpancar, terlihat dari rona wajahnya. Meski sekilas tampak seram, namun Mbok Kresek tergolong wanita tangguh di balik cacat fisik menderanya.

Mbok Kresek satu di antara yang luput dari sorotan dan sempat terlupakan Pemerintah Daerah (Pemda) Kediri, Jawa Timur. Mbok Kresek punya saudara bernama Redju juga terdampak cacat fisik, namun masih bisa berjalan. Di antara mereka, baik Redju, Bulik Mukilah dan Mbok Kresek ironisnya tak terdaftar penyandang dan penerima BLT (bantuan langsung tunai) serta bantuan sosial pencanangan program pemerintah lainnya.

Selama ini yang mengurus Mbok Kresek ternyata Bulik Mukilah. Nenek kelahiran, 2 April 1938 (80 tahun) inilah, setiap saat terpanggil jiwanya, menyambangi rumah Mbok Kresek, berbagi sepriring nasi bagi Mbok Kresek.

“Ya betul yang nyuapin tiap hari Ibu Mukilah, tapi kalau bantuan dari Dinsos setahu saya belum pernah,”urai Hery Wirawan, pensiunan polisi, seperti dikutip dari status whatsApp, yang bermukim tak jauh dari rumah Mbok Kresek.

Sementara itu menurut Bulik Mukilah saat berinteraksi dengan Santoso di kediaman Mbok Kresek beberapa waktu silam, terungkap bahwa Mbok Kresek pernah terima bantuan sebanyak tiga kali, totalnya Rp 900.000.

“Bulik Mukilah mengaku telah menerima bantuan tiga kali, selama tiga bulan per bulan Rp 300.000 sehingga dikali tiga bulan Rp 900.000. Dan, sampai saat ini nggak pernah dapat bantuan lagi. Ya, hanya tiga kali itu,”imbuh Santoso.

Ditandaskan beberapa kali interaksi dengan megapolindonesia.com, Santoso tampak prihatin dan terharu melihat kondisi Mbok Kresek.

“Saya sangat prihatin dengan kehidupan Mbok Kresek, karena sebetulnya justru Mbok Kreseklah yang lebih berhak mendapatkan bantuan pemerintah, eh kok malah terabaikan,”sesal Santoso putra asli kelahiran Kediri, Jawa Timur.

Sementara itu Komunitas SWK (Seduluran Wong Kediri), Rabu (13/2/2019) bersama relawan dan tim medis dari RS Umum Pelem Pare menyambangi kediaman Mbok Kresek. Mereka berjumlah 10 orang bersama dr. Wahyu bertujuan check medis kondisi kesehatan Mbok Kresek. Selain melakukan aktivitas medis, mereka juga melakukan bansos (bantuan sosial).

Data yang berhasil dihimpun bahwa Komunitas SWK, menggandeng relawan dan tim medis melakukan gladi bersih dikediaman Mbok Kresek. Dari lorong tempat tidur hingga sudut ruang lainnya. Pasca membersihkan rumah, giliran Mbok Kresek dimandikan secara marathon hingga diobati oleh tim medis Seduluran Wong Kediri (SWK).

Di tempat terpisah, Mukhlish Mubarak dari Komunitas Relawan Nasional Jakarta, Infra OSCAR Kemanusiaan menjelaskan bahwa potret kehidupan Mbok Kresek, bukan satu satunya, dan inilah pentingnya pendataan akurat dari para stakeholder terkait. Diagendakan, tim relawan Infra Oscar Kemanusiaan, pada 21 Februari 2019 akan berbagi kasih menyambangi kediaman Mbok Kresek.

“Kisah Mbok Kresek sebetulnya hanyalah secuil kisah dari selaksa potret realita anak manusia di tengah belantara kehidupan. Dibutuhkan sinergitas dan saling mengisi, agar tak ada lagi kaum dhuafa & fakir miskin tak tersentuh bantuan, padahal pencanangan program pemerintah kontinyu berjalan hingga detik ini. Ironisnya, mereka yang berhak justru terabaikan dan termarjinalkan. Kepala lingkungan di level bawah juga hendaknya peduli pada warga dan lingkungannya. Pejabat di tingkat atas mana tahu, jika tak ada laporan dari tingkat bawah,”tukasnya.

Di ujung perbincangan, pentingnya stakeholder terkait blusukan melakukan pendataan konkret dan valid, supaya tak ada lagi warga miskin yang datanya terselip. Hal ini bertujuan agar mereka kaum dhuafa & fakir miskin mendapatkan haknya untuk kemanusiaan, karena sesungguhnya anak anak terlantar, fakir miskin, dan kaum dhuafa dipelihara oleh Negara,”pungkasnya. (NTS)

Ingin Tahu Lebih Banyak Soal Kota Bekasi?

Kami Kabarkan Berita Terbaru Seputar Kota Bekasi Langsung ke Gadget Anda.

Invalid email address
Anda Bisa Berhenti Berlangganan Kapan Saja Tanpa Biaya

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: