Eksistensi Petani Kopi Tua di Lembah Kamuu

Megapolindonesia.com

PAPUA – Sejak jaman Belanda, Moanemani, sebuah kota kecil di Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai telah terkenal sebagai daerah penghasil kopi. Bahkan, semerbak harumnya kopi Moanemani dicari oleh pecinta kopi dari mancanegara.

Kala itu, perusahaan raksasa PT. Freeport secara berkala menerima pasokan kopi dari Moanemani. Tidak hanya itu, melalui pilot – pilot asing dan misionaris, kopi Moanemani mendapatkan pasaran di beberapa negara Eropa.

Kini, setelah melewati tiga generasi, perkebunan kopi di Lembah Kamuu memasuki usia senja kala. Moanemani memasuki fase krisis regenerasi petani kopi di tengah semakin melonjaknya permintaan kopi di pasaran nasional bahkan internasional.

Didimus Tebay (68 tahun), adalah petani kopi generasi pertama hasil didikan misionaris Katolik melalui sekolah P5 (pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan perindustrian).

Ia menuturkan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sekitar antara tahun 1960 – 1963 dilakukan percobaan penamanan kopi di beberapa titik oleh misionaris.

“Melihat situasi tempat, tinggi tempat, suhu dan curah hujan, mereka menduga daerah ini cocok untuk ditanam kopi jenis arabika. Mereka mengadakan percobaan menanam 50 – 100 tanaman yang terpencar di beberapa titik, dan hasilnya sesuai perkiraan mereka,” terang Didimus.

Menurut Didimus, sejak saat itu tanaman kopi mulai di budidayakan, dan misionaris pun mendidik warga setempat untuk bertani kopi, termasuk dirinya.

Ia memiliki beberapa hektar kebun kopi. Selain menjual kopi dalam bentuk kopi beras “green bean”, Didimus juga mengolahnya menjadi kopi bubuk. Ia memiliki cukup banyak pelanggan yang berasal dari luar Papua, bahkan terkadang pembeli dari kota datang ke Dogiyai untuk membeli produknya langsung.

Di usianya yang telah senja, Didimus masih aktif berkebun kopi bahkan dalam beberapa tahun terakhir ia mengikuti berbagai pelatihan terkait kopi.

“Selama saya hidup, saya berkomitmen untuk mengembangkan kopi,” ujarnya.

Didimus menambahkan, sebenarnya permintaan kopi dari luar meningkat, namun sayangnya pihaknya tidak dapat memenuhi permintaan pembeli, dikarenakan hasil produksi yang kurang.

“Produksi kami kurang, persoalannya kurangnya regenerasi petani. Anak – anak muda tak mau lagi menjadi petani kopi,” ujarnya.

Pengalaman lain dirasakan oleh Germanus Goo (50 tahun), warga kampung Idakotu, Distrik Kamuu. Germanus menceritakan perkebunan kopi rakyat di kampungnya, sebenarnya telah ada sejak tahun 1940-an.

Ingin Tahu Lebih Banyak Soal Kota Bekasi?

Kami Kabarkan Berita Terbaru Seputar Kota Bekasi Langsung ke Gadget Anda.

Invalid email address
Anda Bisa Berhenti Berlangganan Kapan Saja Tanpa Biaya

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: