Datangi SMAN 1 Bekasi, Netty Heryawan Sosialisasikan Sekolah Ramah Anak

Megapolindonesia.com

BEKASI – Menindaklanjuti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 82 tahun 2015 tentang Sekolah Ramah Anak (SRA), Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mendorong kualitas pembangunan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA/SMK), baik secara fisik dan non fisiknya.

Menurut peraturan tersebut, untuk mencapai SRA sekolah harus memenuhi tiga unsur, yakni infrastruktur (hardware), kurikulum (software), dan SDM sekolah (brainware) yang mumpuni. Sementara secara tujuan, SRA merupakan upaya untuk menjadikan sekolah menjadi bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri, dan nyaman.

Bunda Literasi Jawa Barat, Netty Prasetyani Heryawan mengungkapkan, sekolah-sekolah di Jawa Barat secara umum telah memiliki kesiapan untuk menerapkan konsep SRA, namun karena peraturan masih baru, maka sebagian banyak sekolah masih beradaptasi.

“Konsepnya sangat komprehensif, kalau kita lepaskan begitu saja ke sekolah mungkin sekolah punya kesulitan untuk melakukan pentahapan implementasinya,” ujar Netty saat ditemui di SMAN 1 Kota Bekasi, Bekasi Timur, Selasa (13/3/2018).

Netty menjelaskan, turunnya aturan saat itu disertai dengan fenomena kekerasan yang terjadi di sekolah dan merebak sehingga menjadi kekhawatiran banyak pihak. Menurutnya, pemerintah Jawa Barat menggecarkan sosialisasi sebagai upaya menekan hal tersebut karena masing-masing unsur SRA saling mempengaruhi.

Ia juga menerangkan, unsur hardware atau infrastruktur sekolah-sekolah di Jawa Barat sudah cukup memadai. Dari total 782 sekolah lanjutan tingkat atas, Netty mengklaim 80% sudah memenuhi unsur hardware.

“Saya berkeliling ke sekolah-sekolah sebetulnya semua sekolah menyatakan siap. Dan ketika saya melihat secara fisik sudah 80%. Rata-rata, kan, sudah punya gedungnya sendiri,” tambah Netty.

Lebih lanjut, untuk urusan software atau tentang kurikulum dan proses belajar mengajar telah mengacu pada pedoman pusat. Namun untuk pengembangannya, sekolah diharapkan mampu menambahkan inovasi, seperti lewat cara pengajaran.

“Nah untuk urusan software semua menuju mantap karena diarahkan dari pusat, dan itu harus terus dikejar oleh guru karena itu pertaruhan sebagai tolak ukur sekolah,” tambahnya.

Menurutnya, yang menjadi perhatiannya saat ini terkait brainware, dimana SDM sekolah, yakni para guru bisa menciptakan iklim kondusif di sekolahnya. Karena tanpa guru yang mendorongnya, maka SRA tidak akan terwujud.

“Justru yang harus diperkuat saat ini dari brainwarenya, jangan membuat anak tertekan. Jadi prosentase yang brainware ini harus ditingkatkan masif,” tegasnya.

Netty menambahkan, tanpa keterlibatan penuh SDM sekolah, maka unsur hardware dan software yang sebelumnya telah ada tidak dapat berkembang sehingga konsep SRA terwujud. Maka dari itu dia meminta agar sekolah-sekolah dapat bersikap serius.

“Kenapa hal ini penting, karena kalau bicara hanya fisik dan kurikulum yang terpenuhi itu sulit, jadi SDM yang terlibat dan bisa membangun kesepahaman itu, dan itu yang harus diprioritaskan,” pungkasnya.(MG)

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: