Nathasya Febrinska, Satpol PP Pemkab Purwakarta Yang Bikin Meleleh Warganet

Nathasya Febrinska (dok.Instagram)

Megapolindonesia.com

PURWAKARTA – Seorang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta menjadi buah bibir di linimasa sosial media beberapa hari ini.

Sosok Nathasya Febrinska, salah satu Satpol PP Pemkab Purwakarta menghipnotis para pengikutnya di sosial media Instagram. Memiliki nama akun @nathasyafebrinska di Instagram, Nathasya tercatat diikuti oleh sekitar 27 ribu follower.

“Memang sudah dari dulu tertarik untuk mengabdi kepada negara, berwibawa, terlatih, disiplin, suka aja lihatnya, meksipun waktu sudah dibeli oleh negara, bertemu atau berkumpul keluarga jarang, tapi kalau niatnya udah dari hati, beda aja, diri sendiri bangga, keluarga juga pasti lebih bangga,” tutur Nathasya saat menjelaskan mengapa dalam usianya yang sangat belia dirinya memilih untuk menjadi abdi negara.

Nathasya saat bertugas (dok. Pribadi)

Ketika ditanyakan perihal sosoknya yang menjadi viral di Instagram, wanita kelahiran Jakarta, 26 Februari 1998 ini mengaku bahwa banyak warganet yang mengirimkan pesan singkat kepadanya akhir-akhir ini.

“Senang sih, karena menambah banyak teman dari berbagai daerah, tapi ada takutnya, takutnya kalau sudah ada orang yang bilang saya sombong, padahal saya cuma manusia biasa yang juga punya privasi untuk tidak harus selalu terbuka pada setiap orang yang kirim pesan kepada saya,” beber Nathasya, Kamis, (15/2/2018).

Tak jarang, warganet pun mengomentari kecantikan Nathasya di kolom komentar Instagramnya. Tak jarang pula warganet yang meninggalkan ucapan semangat  di foto-foto yang didokumentasikan Nathasya di akun Instagram pribadinya.

(dok. Instagram)

Berikut wawancara lengkap tim Megapolindonesia dengan Nathasya Febrinska, personil Satpol PP Kabupaten Purwakarta yang sosoknya viral di sosial media Instagram beberapa hari ini.

Megapolindonesia (M): Sejak kapan dipercaya Pemkab Purwakarta untuk menjadi Satpol PP dan bagaimana rasanya ketika menjalankan tugas menjadi seorang Satpol PP yang selama ini identik dengan tugas laki-laki?

Nathasya (N) : Sejak tahun 2016 bulan Februari. Rasanya senang, karena saya menjalankan tugas tersebut dengan sukacita yang ternyata tidak hanya laki-laki yang bisa menjalankan tugas tersebut, pasti ada kebanggaan untuk diri sendiri, karena saya sebagai wanita juga bisa melakukannya. Disini juga saya memiliki kesempatan untuk bisa bersosial dengan masyarakat banyak.

M: Pernah mengalami kesulitan atau kendala dalam bertugas? Kalau ada, bisa disebutkan apa kendalanya.

N : Pernah. Ketika saya dan rekan saya menghadapi warga yang malah terus mengusir dan mengancam setiap kami menjalankan tugas untuk mensterilkan daerah tersebut dari parkir sembarangan.

M: Pendapat mengenai pandangan sosial media yang menyebut Nathasya sebagai seorang Satpol PP yang cantik dan nge-hits?

N: senang sih, karena menambah banyak teman dari berbagai daerah, tapi ada takutnya, takutnya kalau sudah ada orang yang bilang saya sombong, padahal saya cuma manusia biasa yang juga punya privasi untuk tidak harus selalu terbuka pada setiap orang yg kirim pesan kepada saya.

Tapi saya sangat berterimakasih untuk yang telah dan selalu mensupport saya, sewaktu saya LIVE di akun instagram saya, disitu saya punya kesempatan menyapa mereka, dan tak sedikit yg bilang dan berpesan kepada saya untuk selalu bisa rendah hati, seneng banget, karna sedihnya hilang mengenai perkataan orang yang buruk.

Saya hanya sedikit menyayangkan saja sih mereka yang berkomentar tanpa tahu kebenarannya seperti apa dengan profesi yang saya jalani saat ini, tapi kritikan tidak membuat saya jatuh, malah muncul keinginan memacu diri untuk bisa lebih baik. Namanya hidup pasti ada pro dan kontra, ya saya ambil sisi positifnya saja.

M: Punya sosok atau tokoh (role model) yang menjadi idola dan teladan menjalani kehidupan dan tugas sehari-hari?

N: ada, beliau adalah seorang Polisi Wanita, bernama Bripda Eka Yuli Andini, sosoknya pernah viral karna sukses menjadi seorang Polisi meskipun orangtuanya berprofesi sebagai Tukang Tambal Ban namun optimis dan semangatnya yg mengisyaratkan bahwa sukses tidak hanya untuk orang kaya dan berhasil membuat banyak orang kagum dengan kegigihannya, terutama saya. Kinerjanya pun pernah mendapatkan penghargaan oleh Kapolda Jawa Tengah. Wanita yang hebat.

M: Apakah berat menjalani tugas sebagai Satpol PP sehari-hari?

N: mudah tidak mudah sih, beratnya ketika terjun lapangan yang kadang-kadang merasa tak dihargai sebagai petugas, padahal kan kita hanya ingin masyarakat mengikuti peraturan yang ada demi kebaikan bersama.

M: Cita-cita terbesar dalam hidup? Dan alasan memilih cita-cita tersebut.

N: Polisi Wanita. Karena memang dasarnya sudah tertarik banget pengen jadi abdi negara. Berwibawa, terlatih, disiplin, suka aja lihatnya, meksipun waktu sudah dibeli oleh negara, bertemu atau berkumpul keluarga jarang, tapi kalo niatnya udah dari hati, beda aja, diri sendiri bangga, keluarga juga pasti lebih bangga, meskipun sekarang belum kesampaian.

M: Pernah ada kejadian tak terlupakan saat bertugas sebagai Satpol PP ?

N: pernah, ketika saya pengamanan acara di Kabupaten saya, saat itu saya merasa sangat capek, banyak masyarakat yang tidak mau tertib, dan memprovokasi warga lainnya, sungguh membuat saya sangat kesal dan ingin menangis rasanya, mengingat saya pernah dinasehati untuk tetap menjadi air ketika orang seperti api.

Saat itu diuji sekali kesabaran saya untuk bisa mengontrol emosi saya, dalam kondisi itu, ada anak kecil yang digendong pada pundak ayahnya, tersenyum melihat saya, mengulurkan tangan kecilnya mengajak saya tos dan berkata “semangat ya teteh” dengan suara lucunya.

Saat itu lelah saya kesal saya hilang semua, kalo yang iseng-iseng kasih semangat ngeliatin saya sampe kesandung banyak, sampe bikin saya ketawa, tapi kalo yang anak kecil itu ‘gak tahu kenapa saya terharu aja, disini juga saya dapat kesempatan bertemu orang-orang besar, ada kebanggaan untuk diri sendiri karena belum tentu orang lain bisa mengalaminya. Saya senang dan bersyukur.

M: Pernah merasa tak tega ketika harus bersinggungan dengan masyarakat demi peraturan, seperti melakukan relokasi atau penertiban?

N: kalo soal gak tega itu sih pasti, namanya orang sedang mencari nafkah kan, tapi ya mau gimana lagi, udah tanggung jawab tugas, kalo gak nakal dan tidak menyalahi aturan mana mungkin kita melakukan penertiban tersebut, semua kan ada dasarnya. Meksipun begitu, selain harus tegas, disini Satpol PP juga harus tetap humanis. (Yd)

Beri Komentar

%d bloggers like this: