Potret Buram “Bisnis” Mobil Jenazah Di Bekasi Selatan


Megapolindonesia.com

BEKASI – Di tengah pemerintah gencar meneriakkan pelayanan kesehatan, ironisnya warga kota Bekasi masih kesulitan mendapatkan fasilitas layanan mobil jenazah. Sebuah realita yang sulit dipungkiri.
Pasalnya selain mobil jenazah telah dijadikan ajang komersial, kini telah berubah fungsinya. Tak lagi murni sosial dan kemanusiaan.

“Ya memang kenyataannya seperti itu. Kasihan warga yang lain yang sedang berduka selalu kelabakan. Betapa sulitnya mobil jenazah untuk warga,” tukas Lepe saat berbincang ringan dengan tim Megapolindonesia.com.

“Mobil jenazah itu sangat penting tandasnya, warga selalu kesulitan mobil jenazah. Nah ada mobil jenazah punya salah satu tim sukses politisi, tapi kadang sulit untuk dipakai masyarakat, yaa seakan-akan pura-pura merem gitu ketika warga miskin yang membutuhkan,” urainya.

“Kalau memang warga atau sekelas karang taruna saja masih kesulitan harusnya ambil sikap. Harus ada aksi ke Kecamatan Bekasi Selatan. Kalau sudah ada aksi baru ada reaksi. Nggak usah takut demi warga kok,” tegasnya.

Apa yang disampaikan Bang Lepe sapaan akrabnya, tampaknya relevan, pasalnya dirinya pernah mengalami saat Raka Haidar (9), meninggal dunia pada Selasa (5/12/2017) dan jenazah Raka dikebumikan menggunakan mobil bak ke pemakaman.

Padahal sang adik adalah sopir mobil ambulance tim URC, tapi dirinya tidak memanfaatkan mobil ambulance digunakan untuk membawa jenazah ponakannya.

Sementara itu warga lain bernama Jajang yang profesinya merupakan relawan di Kota Bekasi juga angkat bicara terkait sulitnya warga saat ingin meminjam jasa sebuah mobil jenazah.

“Memang sampai saat ini kita masih sulit kalau mau pakai mobil jenazah. Nah, warga banyak nggak tahu, kalau mobil ambulance itu fungsinya untuk membawa pasien sakit, sedang untuk membawa jenazah ya mobil jenazah,” bebernya.

Pernah juga saya teriak minta tolong karena darurat, tolong tolong saya butuh mobil jenazah. Dan, waktu itu pak Muchtar yang merespon dan yang nyopirin Ari Darmadji, petugas masjid di wilayah Jakasetia.

Diakui Jajang, permasalahan perihal mobil jenazah pernah disampaikan ke stakeholder pemerintahan tapi memang mendem sampai saat ini.

“Secara pribadi saya di grup Katar Pekayon Jaya. Saya mengutarakan usulan itu sendiri dan tidak ada dukungan dari yang lain, makanya kurang kuat. Yang lain kayaknya tidak perduli, Katar lain nggak mendukung. Waktu itu saya sudah bilang ke Bang Haji Darkam juga, dan sampai saat ini pun belum ada respon, dan belum ada sama sekali kelanjutannya. Dibilang bahwa mobil jenazah nanti akan direkomendasikan. Hanya itu saja” tegas Jajang.

Sulitnya mobil jenazah tak bisa ditampik di Bekasi Selatan, pasalnya pada saat bersamaan ketika jenazah Raka mau disemayamkan dua permintaan dari kawasan Cikunir, Jaka Mulya dan Kelurahan Pekayon Jaya mau pinjam mobil ambulance untuk angkut jenazah.

“Maaf pak, itu mobil ambulance bukan untuk ‘mbawa jenazah. Ponakan saya saja saya bawa pakai mobil bak, maaf ya pak,” tukas Jajang menirukan suara seorang supir ambulans.

“Saya rasa buat masyarakat ekonomi ke bawah dan sering evakuasi ala kadarnya, secara pandangan saya sepertinya terpaksa dan memaksakan tak ada tempat ke mana mereka harus mengadu.”

Namun demikian mahalnya mobil jenazah pun membuat warga miskin sepertinya berdiri bulu kuduk karena merinding mendengarnya.

Data yang berhasil dihimpun Megapolindonesia.com bahwa tidak ada yang gratis untuk warga miskin saat menggunakan fasilitas mobil jenazah ketika ada anggota keluarga meninggal.

Keluarga Bunali hampir menjadi korban “tarif” mobil jenazah. Singkat cerita, Bunali, pria 45 tahun meninggal terdampak sakit asma dan paru akut berencana dikebumikan di kampung halamannya tepatnya di Magetan, Jawa Timur.

Relawan dan tetangga mencari mobil jenazah jam 01.00 WIB tersebut dibuat terkejut karena ketika menanyakan jasa antar jenazah, pengurus masjid di bilangan Jaka Setia tersebut menyebut tarif Rp 6,5 juta hingga 8 juta ke Jawa Timur.

“Untung saja nggak ada sopirnya, kita sempat diantar rekan dari RPK (Radio Pemantau Keamanan), saya saja kaget kok mahal banget ya. Bagaimana dengan warga miskin bisa pulang nggak jenazahnya,” tukas Mukhlis Mubarak.

Meskipun ada mobil jenazah murah tidak ada cerita gratis bagi warga miskin, hingga doa dan tahlil bagi warga miskin yang meninggal, yang datang pun ustadz berjiwa relawan.

“Kalau yang meninggal orang miskin sepi ustadz, namun jika yang meninggal orang kaya ustadznya antri,”tambahnya.

Hedonisme telah merasuki manusia, hingga rasa sosial kemanusiaan seperti kisah dalam negeri dongeng. Itulah potret dinamika dan realita kehidupan yang terjadi di sekitar kita. (NTS)

Beri Komentar

%d bloggers like this: