Perkotaan

Kompaknya Tim URC Pekayon Jaya Tangani Problematika Kesehatan Masyarakat

Megapolindonesia.com

BEKASI – Di tengah gencarnya sosialisasi kesehatan di Kota Bekasi, URC (Unit Reaksi Cepat) bergandengan Puskesmas Pekayon Jaya tampaknya semakin eksis dan fenomenal. Menelisik kesehatan tak lepas dari dunia medis. Komplitlah, URC Pekayon Jaya terdiri dari relawan, karang taruna dan tim medis Puskesmas Pekayon Jaya.

Lahirnya URC sebagai wadah tanggap darurat bencana. Kemunculan URC, setengah tahun silam sebelum gencar Katar (Karang Taruna) turun dalam dominasi aksi kemanusiaan, dari advokasi, rujukan, pendampingan, hingga pasien memasuki ruangan perawatan.

“Ya, sebelum pasien yang kita evakuasi masuk ruangan, kita masih stand by di sekitar rumah sakit. Intinya dari proses advokasi, rujukan, hingga pendampingan sampai pasien benar benar masuk ruangan,”tukas Jajang Qijoy, relawan Katar 26 saat disambangi megapolIndonesia.com di rumahnya RT 04 RW 26 Pekayon Jaya.

Lewat tangan dingin dan ide cemerlang dr. Agung Firdaus Insani selaku pencetus, URC dalam perkembangannya, hingga kini diestimasi 80 pasien, yang didominasi warga Pekayon Jaya terdampak sakit dievakuasi ke rumah sakit.

“Kita bergerak atas nama panggilan jiwa, ikhlas tanpa pamrih. Membangun sinergi dalam hal sosial kemanusiaan,”tambahnya.

Dalam pandangan Jajang Qijoy, ketika dirinya terjun di dimensi kemanusiaan, sesungguhnya ia tergolong anggota Katar baru. Tak terbersit mantan preman ini, justru akhirnya jadi ikon dari Katar 26 yang digawanginya.

“Saya bangga sekali kenal Katar. Saya bisa ada di sini, karena saya di Katar 26. Katar 26 adalah percontohan Katar lain untuk bergerak. Saya hanya ingin ungkapkan yang saya jalankan. Sifat sosial Katar dapat menggugah hati dan perasaan saya. Saya tidak punya program lain selain kesehatan warga,”jelasnya.

Secuil kisah dramatis mantan preman ini memantik empati dan suri tauladan nyata, bahwasanya sikap mental & perilaku dilandasi niat tulus untuk sebuah perubahan melahirkan karya dan inspirasi.

“Saya dicaci maki orang, saya dulunya anak yang nggak bener. Ironisnya, dikucilkan serta dipandang sebelah mata. Setelah di Katar, tali silaturahmi jadi kebesaran jiwa saya,”tukasnya haru.

Di Bekasi Selatan ini tandasnya, kita hanya jembatan buat warga yang butuh pertolongan. Kalau bukan kita bergerak, siapa lagi. Di balik kepentingan lain, sesungguhnya ada yang lebih inti yakni pertolongan ke warga yang sakit.

Saya tidak takut bergerak di kemanusiaan. Bicara sosial kemasyarakatan tugas dan kewajiban kita dalam membantu pemerintah Kota Bekasi dalam kaitan program unggulan kesehatan. Turut mensukseskan program pemerintah, kita harus dukung secara konkret jangan hanya bicara tapi tidak ada tindakan. Selama ini hanya namanya Katar, tapi nggak ada gerakan,”sindirnya.

“Jangan takut susah, jangan takut miskin, dan jangan takut terhina. Saat kita terjun di sosial kemanusiaan. Saya hanya ingin menggugah dan saya tidak bisa jalan sendiri. Dan, alhamdulillah berkah yang saya rasakan selama ini,”jelasnya.

Saat disinggung megapolIndonesia.com terkait penolakan pasien dan semua permasalahan yang melingkupinya, tampaknya Jajang Qijoy telah matang dan teruji.

“Buat saya ini proses pembelajaran, karena niat baik belum tentu ditanggapi dengan baik. Ada juga kasus nenek renta yang lumpuh, saat kita bergerak menyadarkan anak anaknya melek dan berusaha bawa ke rumah sakit, karena anak anaknya orang kaya, namun tidak perduli, setelah kita turun alhamdulillah sadar,”jelasnya.

Diharapkan Jajang Qijoy, ketua RT bisa bersinergi dengan URC dilapangan. Kendala dilapangan terkait evakuasi terdampak sakit warga yang tidak disiplin, di antaranya identitas tidak jelas dan segala perniknya sempat memeras peluh, meski tuntas juga.

“Saya sampaikan dan ingatkan pada pak RT, agar teliti tuh warganya, harus dibuatin 1 X 24 jam harus lapor. Cetuskan edaran ke setiap pendatang, kalau perlu ditempel di setiap rumah warga.”

Di samping itu idealnya ketua RT bisa kerjasama dengan Katar untuk pendataan. Terkait pendatang misalnya, mau tinggal atau nginap. Karena tak ada kerjasama antara Katar dan RT setempat dan kadang juga ketua RT tidak perduli, sehingga banyak kita temukan warga tak disiplin, pas sakit kelabakan. Nggak dibantuin tapi tinggal di kampung kita. Intinya kurang tertata,”imbuhnya.

“Kadangkala warga pendatang minimnya kesadaran. Dan tak mengurus persyaratan tinggal di kampung sebagai warga yang baik. Dan sub sub Katar RT tolong bergerak dan bisa kerjasama. Percuma ada Katar sub RT tapi tidak bergerak,”tegasnya.

Kita buktikan bahwa Katar berjiwa sosial dan bersatu, jangan gerak hanya tahun baru saja atau acara 17-an, tapi ayo di sekitar kita banyak warga yang butuh pertolongan,”ajaknya.

Ditandaskan lebih lanjut bahwa aksi aksi kemanusiaan tak lepas dari sosok Kepala Puskesmas Pekayon Jaya yang terus membakar semangat bergandengan Katar 26 Pekayon Jaya.

“Ini juga tak lepas dari sosok pak dokter Agung, yang tak henti hentinya memberikan suport dan dukungan konkret, dan beliau juga blusukan terjun langsung ke rumah warga yang terdampak sakit,”tambahnya.

Ditandaskan lebih lanjut, kayaknya hanya beliau satu satunya pejabat Dinas Kesehatan sekelas kepala mau terjun ke lapangan siang dan malam. Ini baru kepala yang memberikan contoh, spirit, dan motivasi,”akunya jujur.

Dalam pantauan megapolIndonesia.com di lapangan fakta yang tersingkap, bahwa tak hanya warga Pekayon Jaya saja yang jadi prioritas pertolongan. Saat dapat info, di mana Katar di wilayah terdampak sakit mandul, Tak sedikit, warga di luar Pekayon Jaya dievakuasi URC (Unit Reaksi Cepat).

Cerita Katar Kelurahan Jaka Setia tidak bergerak alias mandul ternyata bukan sekedar rumor, tapi realita. Pasalnya, Ketua Katar pernah melempar tanggung jawab. Terungkap, tatkala pasien Iman Satriya warga RT 03 RW 017, sekaligus anak buah di bisnis broker tenda mendapat musibah.

Di tengah evakuasi Iman Satriya pasien kecelakaan hingga kuping bersimbah darah sempat memanas dan menuai polemik. Terkait tukang tenda, Jajang berbagi dengan megapolindonesia.com yang kebetulan sempat pantau selama 2 hari di RS Hermina Galaxi.

Ironisnya lagi, bos tukang tenda anak buahnya yang kecelakaan saat pasang tenda hajatan di kawasan Jaka Setia.

“Ya, waktu itu saya di telepon, ada korban tukang tenda dan kita ambil dari pengobatan patah tulang Haji Namin. Kita evakuasi dan kita bawa ke RS Hermina,”jelasnya.

Ditandaskan lebih lanjut, bahwa sejak bos tenda menyerahkan anak buahnya saat kecelakaan pasang tenda yang kupingnya berdarah darah dirinya langsung menghilang dan tak muncul lagi.

Terkuak, pasca menikah Iman Satriya telah memiliki KK sendiri, namun yang disodorkan Mawi ke tim URC adalah KK atas nama Suramto di mana Iman Satriya masih tercantum di KK lama, dan pas dibuat KBS NIK nama Iman Satriya tak terdaftar. Dan bukan warga Kota Bekasi lagi, pasca menikah dengan istrinya asli Sumatera Utara. Permasalahan krusial pun akhirnya menyeruak.

Konklusi, baik bos tenda dan keluarga pasien berdusta mengelabui tim URC dengan cara tidak jujur, demi mendapatkan fasilitas pengobatan dan perawatan gratis dari pemerintah Kota Bekasi.

“Ya, saya sempat dicaci maki oleh keluarga pasien, padahal harusnya dari awal jujur, makanya pas keluar KBS NIK tidak ada muncul nama pasien mereka komplain lagi, karena pasien sudah berumah tangga dan punya KK sendiri,”jelasnya.

SMS negatif yang berhasil diterima megapolIndonesia.com dari Ipah kakak korban, berhasil direkam di antaranya “Maaf bang, hari ini di rumah sakit Hermina Bekasi sama saja pertanyaannya, masalah jaminan ya Kartu KBS NIK atau bayar pribadi. Jadi adik saya seperti sampah, di oper sana sini walaupun tidak ditelantarkan tapi perawatannya ya biasa aja, suster selalu tanya bagaimana bu kartu jaminannya,”tulis Ipah dalam SMS-nya.

Lebih lanjut Ipah memaparkan, temannya yang bilang tanggung jawab hanya janji manis, tenang aja jangan kuatir masalah biaya. Nyatanya nihil bang. Gondrong malah pasrah dan nada bicaranya tidak enak,”jelas Ipah dalam SMS-nya.

Eksistensi URC besutan PUSKESMAS Pekayon Jaya hingga saat ini, dari awal perjalanannya telah menuai prestasi gemilang. Evakuasi bukan hanya warga kawasan Pekayon Jaya, dari orang melahirkan, balita, nenek renta sampai warga tak jelas identitasnya. Namun, seiring Katar di luar Pekayon Jaya telah terpanggil dan bergerak, tugas kemanusiaan URC semakin ringan.

Tak disangka, selama setengah tahun bergerak atas nama kemanusiaan dari advokasi, rujukan, hingga pendampingan URC Pekayon Jaya yang bersinergi Puskesmas Pekayon Jaya tak secuilpun dana bantuan mengalir dari pemerintah. Pemerintah melalui Puskesmas hanya menyediakan fasilitas mobil ambulans untuk evakuasi. Selain mereka ikhlas tanpa pamrih, para relawan yang didominasi Katar rela keluar kocek dari biaya bensin, makan, dan minum saat menunggui pasien di rumah sakit.

“Ya, intinya kita siap perang demi sosial kemanusiaan. Meski tantangan luar biasa sekalipun, kita pantang mundur dan akan menghadapi segala rintangan itu,”pungkasnya. (NTS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s