Ekbis

Peduli Thalasemia Ala Astra Internasional Daihatsu Bekasi

Megapolindonesia.com

BEKASI – Penyandang Talasemia (Thalassaemia) di Indonesia, khususnya Kota Bekasi, Jawa Barat patut bersyukur pasalnya CSR (Corporate Social Responsibility) PT Astra Internasional Tbk memiliki program unggulan berskala nasional, memprioritaskan bentuk konkret keperdulian terhadap penderita talasemia.

Terungkap dalam Seminar Ilmiah bertemakan Mengenal Thalassaemia Sejak Dini, Kerjasama Akademi kebidanan Bunda Auni dengan PT Astra Internasional Daihatsu Bekasi Tbk. Bertempat di Kampus Bunda Auni, Vila Nusa Indah Blok D5/19 Bojongkulur, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.
Sebuah inovasi spektakuler, program Daihatsu Perduli Thalassaemia dari seminar hingga funday yang diselenggarakan CSR Astra Daihatsu Tbk Kota Bekasi, sejak 22-24 Agustus 2017.

“Tujuan dan sasaran perusahaan di PT Astra Internasional Daihatsu Tbk ini, kita peduli dan sadar, bahwasanya kita semua berusaha mencegah rantai perkembangannya,”tukas Sakti Aji selaku Bidang CSR PT Astra Internasional Daihatsu Tbk Kota Bekasi saat berbincang ringan dengan Megapolindonesia.com

Ditandaskan bahwa aktivitas Astra Daihatsu Perduli Thalassaemia untuk kota Bekasi adalah kali yang kedua. Merupakan program pusat yang telah diselenggarakan dari tahun ke tahun.

“Caranya bagaimana lanjut Sakti Aji, sebagai perusahaan kita lakukan program Corporate Social Responsibility dengan sosialisasi program funday. Dimulai pagi di internal untuk karyawan dan siang secara eksternal ke kampus,”imbuhnya.

Dan kita buat semacam seminar supaya ada interaktif agar mereka memahami apa itu talasemia dan secara konsep nantinya mereka kita harapkan secara tahap screening talasemia, melakukan pengecekan dan banyak lembaga sudah bisa menerima screening talasemia.

Para penderita talasemia, mereka hidup dengan ketergantungan, dan setiap bulannya apakah mereka talasemia baik mayor ataupun ninor mereka harus melakukan transfusi darah.

Dikatakan Sakti Aji dalam paparannya, bahwa mereka itu telah mengalami gagal fungsi dan secara kematian tergantung fisik masing masing penderita itu sendiri.

Orang jaman dulu bilang bayi lahir penyakit kuning. Sebetulnya talasemia atau jaman dulu orang menyebut penyakit kuning, karena pucat akibat kekurangan sel darah merah. Tidak bisa disembuhkan tapi bisa dicegah.

Akibat Kurangnya sosialisasi di tengah tengah masyarakat terkait penyandang talasemia, seakan penderita penyakit kelainan genetik ini tak dikenal secara luas di masyarakat.

“Perkembangan di Indonesia sangat cepat dan telah puluhan tahun lalu. Kurangnya sosialisasi di Indonesia, agar supaya orang orang yang pembawa sifat tidak menikah dengan pembawa sifat juga,”harapnya.
Kami semua berharap untuk memutus rantai talasemia dengan cara menginformasikan kepada mereka bahwa sebelum menikah screening dulu, cek darah dulu, baru melakukan pernikahan.Agar tidak terjadi tahap penderita talasemia yang baru.

Diakui pria familiar ini, sebetulnya ini program dari pusat yang setiap tahun dicanangkan. Tahun ini ada 4 tempat di areal kami, Bekasi, Cibubur, Karawang, dan Sukabumi.

“Untuk sosialisasi diserahkan masing masing area sosialisasi dan kelanjutannya funday di Ancol (24/8) ada sekitar 160 orang penderita talasemia. Khusus untuk penyandang talasemia Bekasi dan Depok,”ulasnya.

Dijelaskan bahwasanya penderita talasemia di Bekasi tergolong nomor dua di kawasan Jawa Barat, termasuk Tasikmalaya cukup tinggi. Kenapa di Jawa Barat tinggi tingkat penderitanya, kemungkinan dulunya terlalu banyak perkawinan yang hubungan keluarganya terlalu dekat akhirnya terjadi kerusakan kromosom itu yang menyebabkan potensial pembawa sifat ini.

Pentingnya sinergi semua elemen di antaranya unsur swasta dan pemerintah dalam mencegah rantai penyandang talasemia. Dengan tujuan bisa berkurangnya penderita pembawa sifat ini.

“Kalau dari sisi kedokteran sudah banyak dokter yang peduli tapi secara operasional di dalam sebuah pemerintahan belum digalakkan artinya masih terbatas,”jelasnya.

Sinergi telah dibangun, di antaranya RS Hermina dan juga Prodia sudah bekerjasama dengan Yayasan Talasemia Indonesia (YTI) dan juga POPTI (Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia).

“Kami melihat ada perkembangan dari organisasi itu sendiri, sudah mulai meningkat dan ini menjadi sangat penting. Makanya harapan kami dari pemerintah, intinya bagaimana bisa bersama sama, kami sebagai pihak swasta dan dari pemerintah itu sendiri ikut serta dalam rangka mencegah dan memutus rantai talasemia ini,”ulasnya.

Diakui oleh Sakti Aji, karena ini memang tidak bisa diobati. Sampai hari ini obat obat memang cukup berkembang dibanding dulu, tapi obat itu hanya untuk mengurangi beberapa kandungan zat besi dalam tubuh dan penyakit itu nemang tidak ada obatnya dan penyakit seumur hidup,”jelasnya.

Sementara itu selaku Pendukung Bidang Usaha Kampus Bunda Auni, Muhammad saat dimintai keterangan Megapolindonesia.com tampak antusias.
“Awalnya seminar, bagaimana mahasiswa bisa mengetahui dalam rangka antisipasi jika sudah paham pencegahan untuk memutus mata rantai penderita talasemia, yang tepat adalah para alumni di saat pas jelang pernikahan mereka,”jelasnya.

Diharapkan kerjasama ini, bagaimana CSR Daihatsu ini bisa dalam bentuk aplikatif, anak anak diperiksa karena dananya lumayan mahal. Sedang yang dewasa dan ingin kuliah tentunya dibiayai dari dana CSR, agar mendapat hak pendidikan yang sama dengan yang lain, sebab untuk diterima perusahaan sangat tipis karena fisiknya tadi.”

Sebetulnya kerjasama sudah sering dilakukan kalau dari pusat. Kalau acara milad YTI, Daihatsu pusat sumbang sampai Rp 500 juta, sedang kalau program ini sifatnya Daihatsu cabang.

Menurutnya, jangan sampai generasi berikutnya itu merasakan atas apa yang telah dirasakan oleh orang tuanya. Artinya cukup orang tua yang menderita, karena ini memang cukup berat.

Sementara itu Puspasari selaku petinggi POPTI (Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia) saat dikonfirmasi tampaknya sangat antusias, pasca paparan terkait apa itu talasemia.

“Kami dukungan dari Daihatsu bertujuan mensosialisasikan talasemia khususnya di Bekasi kota & kabupaten. Bahwasanya penyandang talasemia terbanyak di Bekasi nomor 2 (urutan pertama Bandung dan ketiga Bogor).
Kami dari POPTI tandas Puspasari, punya data base-nya, nama dan alamatnya, berdasarkan data itu ada 600 penyandang. Sebetulnya data yang tidak tercatat lebih dari 600 penderita. Karena beberapa rumah sakit memang sudah ada penyandang talasemia dan belum ter-save.
Tingkat meninggalnya sedikit, karena penanganannya sudah maju dan pemberian darahnya sudah bagus. Tapi bukan dibilang penyandang talasemia meninggalnya nggak banyak, tahun ini ada empat meninggal.

Adapun rumah sakit yang kerjasama RS Anna Medika di Jalan Perjuangan No.45 sebagai Sekretariat YTI POPTI. Selain itu, RS Hermina Grand Wisata, RS Hermina Kemakmuran, RS Hermina Galaxy, dan RS Hermina Sentra Medika.

Saat ditelisik Megapolindonesia.com jika penderita talasemia tidak melakukan transfusi apa yang akan terjadi terhadap organ tubuhnya.

“Kondisi pucat, dan nantinya limpanya membesar. Kalau tidak transfusi otomatis organ tubuhnya bergerak lebih cepat, limpa memompa darah ke jantung, darah yang dipompa tidak ada dan hasil akhirnya berdampak pada organ tubuhnya itu sakit.”

Selain itu lanjut wanita yang berkantor di Sekretariat POPTI, RS Anna Medika Jalan Perjuangan, Bekasi Utara, bahwa limpanya membesar dan jantung berpengaruh. Pertumbuhan tidak bagus, kulit hitam dan bentuk pipi pun berubah,”jelasnya.

Idealnya transfusi darah dikatakan Puspasari per dua minggu sekali. Anak anak yang sudah dengan kelainan tentunya lebih cepat sekitar seminggu sekali.

Ke depannya imbuhnya, tentunya lebih banyak yang tahu talasemia. Agar banyak yang membantu karena di luar sana masih banyak yang tidak tahu kalau talasemia termasuk jenis penyakit endemik dan termasuk pembiayaan BPJS terbesar kelima.

“Dengan adanya program ini, lebih banyak yang tertolong, dan yang paling terpenting harapan saya mulai dari sekarang putus mata rantai talasemia,”pungkasnya lantang. (NTS).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s