Peristiwa

Tragisnya Nasib Misi Sriyanti, Diisolasi Keluarga Sendiri Dalam Keadaan Buta Dan Lumpuh

Megapolindonesia.com

BEKASI – Aroma tak sedap tercium, tatkala pintu terkuak. Nuansa ruangan 3 X 4 meter tampak senyap. Terlihat, sosok wanita tergolek tak berdaya. Dibalut kain sarung menutupi tubuhnya, Misi Sriyanti biasa disapa Misi tampak pasrah, dengan bola matanya tak sedetikpun berkedip.

Mendapati wanita tergolek tak berdaya di atas pembaringan beralaskan ubin, terbersit tanya. Sejenak, menerawang hingga sudut sudut ruangan, sebelum anak lelaki muncul dari bilik ruangan yang berpintukan kain korden.

Sosok wanita tergolek tak berkedip ternyata telah mengalami kebutaan. Selain mengalami kebutaan, Misi Sriyanti juga mengalami kelumpuhan. Seiring proses bergulirnya waktu sungguh malang nasib Misi. Kondisi terdampak sakit tumor di kepala hingga buta dan lumpuh diisolasi oleh keluarganya.

Misi tinggal bersama ke dua anaknya Rizal dan adiknya yang masih sekolah. Dikala tim relawan memasuki ruangan di mana Misi tergolek, bermunculanlah saudara saudara Misi, di antaranya Rohmad dan istrinya, dan saudara lainnya.

“Ibu pernah dibawa ke rumah sakit Medirosa. Waktu itu ibu ditangani rumah sakit tersebut sekitar tahun 2014. Jadi sampai sekarang sudah 3 tahun ibu sakit,”tukas Rizal anak kandungnya.

Ditandaskan oleh Rizal terkait penyakit yang mendera ibunya bahwa awalnya dari pandangan matanya yang kurang tajam.

“Awal gejalanya itu, ibu matanya tampak rabun dan semua badannya itu mengalami kaku,”imbuhnya.

Sampai akhirnya ibu mengalami kebutaan, nggak bisa melihat. Sebelumnya hanya rabun dan belakangan mengalami kelumpuhan itu belum lama.”

Menurut keterangan Rizal, ibunya dinggap bandel dan tak ikuti aturan.

“Harusnya ibu kalau pingin sembuh ya nurut jangan mbangkang.”

Kehadiran tim relawan bermaksud perduli terhadap nasib Misi yang terdampak sakit Tumor hingga buta dan lumpuh. Sebelumnya tim relawan ke RSUD Kota Bekasi berkoordinasi terkait evakuasi Misi ke RSUD Kota Bekasi dan proses administrasinya, pasalnya Misi berdomisili di Kabupaten Bekasi.

Sementara itu terjadi debat argumentasi tim relawan dengan keluarga Misi lainnya, cenderung bernada negatif. Bahkan Rohmad sempat memberikan stigma buruk perihal rumah sakit. Selain mereka tidak percaya rumah sakit, juga beralasan tak punya waktu mendampingi Misi saat dirawat di rumah sakit.

“Kalau mpok mau nungguin di rumah sakit ya nggak apa apa,”tukas istri Rohmad pada relawan Nurjanah.

Sungguh tragis nasib menimpa Misi Sriyanti. Wanita kelahiran Bekasi, 12 Mei 1972 ini, sepertinya air mata tak lagi bisa menetes, mendengar semua saudaranya tak lagi perduli terhadap nasibnya yang tergolek sakit dalam ketidakberdayaan.

“Ya, saya pingin sembuh, apa saya bisa diobati di rumah pak dokter. Saya pingin melihat seperti dulu dan bisa berjalan lagi,”tukas Misi memelas.

Sementara itu Sarman selaku Ketua RT 01 RW 002 Desa Mangunjaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat ini tampaknya tak bisa berbuat banyak, menyerahkan semuanya pada keputusan pihak keluarga.

“Kalau saya ya terserah pihak keluarganya,”ucapnya singkat.

Menurut sumber yang dapat dipercaya, Misi mengalami sakit fisik maupun psikis. Sejak suaminya berpaling dan selingkuh dengan kakak iparnya, mental Misi tampak terguncang. Ia sering mengigau dan menyebut suaminya yang tak akan mungkin kembali lagi.

“Ya setahu saya begitu, kasihan banget nasib si Misi, sudah sakit dicampakkan oleh lakinya,”tukas seorang tetangganya. Pintunya sengaja ditutup, selain bau, mungkin malu sama tetangga, apalagi didengar orang lain. Ibarat kata kalau mau hidup ya hidup, kalau mau mati ya udah mati, kan ibunya juga pernah ngomong gitu,”tambahnya.

Di tempat yang sama Nurjanah, tim Relawan OSCAR Kemanusiaan yang empati terhadap nasib Misi berkeinginan minta persetujuan dari keluarganya, agar secepatnya Misi dibawa ke RSUD Kota Bekasi. Namun niat baik belum tentu direspon baik. Alhasil, niat mulianya ditolak saudara-saudara Misi.

“Ya, intinya saya ingin menolong si Misi. Kasihan kan si Misi. Pernah suatu hari Misi bicara sama saya, pingin merawat anak anak jika sembuh. Setahun yang lalu masih bisa melihat meski sudah mulai samar samar dan lumpuhnya ya belum lama ini. Ya, itu akibat tumornya yang nggak diobati jadi menjalar ke mana mana, sampai buta dan lumpuh,”jelas Nurjanah sang relawan.

Perjuangan Rizal sang anak selama ini, ternyata tak mendapat dukungan dari saudara yang lainnya. Sejak bapaknya meninggalkan ibunya dalam kondisi sakit, dirinyalah yang wira wiri mengobati ibunya. Sesungguhnya Rizal pun ingin ibunya sembuh.

“Ya saya ingin ibu sembuh.”

Dilema menggelayuti Rizal, terkait ibunya yang tergolek sakit. Saat berbincang dengan tim relawan, ia akan berusaha membicarakan terkait persetujuan ibunya yang sakit dengan saudara lainnya, agar nantinya bisa dibawa ke rumah sakit.

“Ya nanti akan saya bicarakan dengan saudara ibu lainnya.”

Misi tak lagi bisa beringsut. Didera sakit yang semakin parah. Terkapar, tak berdaya dalam bingkai keluarganya. Jangankan pengobatan, ia pun tak lagi mendapatkan ruang. Misi diisolasi dalam sakitnya. IRONIS, nasib tragis Misi. Ini hanyalah sebagian realita yang terkuak media. (NTS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s