Korowai Butuh Penanganan Serius Soal Kesehatan Dan Pendidikan


Megapolitan.co

JAYAPURA – Sekelompok massa yang mengatasnamakan Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKK) Rimba Papua, pada hari Rabu (29/3/2017) melakukan aksi demo di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).
Mereka mendesak agar DPRP turun tangan sebab Suku Korowai membutuhkan perhatian yang sangat serius di bidang kesehatan dan pendidikan.

Kepada Megapolindonesia.com, Norberd Kemi Bobii, Ketua TPKK Rimba Papua yang juga Ketua BEM Fakultas Kedokteran Uncen, mengatakan bahwa kondisi masyarakat Korowai sangat memprihatinkan.

Suku Korowai hidup terpencil di belantara Papua, membutuhan perhatian serius di bidang kesehatan dan pendidikan. Norberd Kemi Bobii menyebut, Suku Korowai menghadapi berbagai penyakit seperti kaki gajah, gizi buruk, perut buncit, malaria, diabetes dan persoalan air bersih tanpa adanya fasilitas kesehatan. Tercatat 64 orang meninggal dunia, dengan perincian 18 pria, 2 orang bayi, 5 balita, seorang anak, 5 orang remaja dan 51 orang dewasa.

“Pada tahun 2007 Dinas Kesehatan sempat singgah, tapi balik lagi. Gereja sempat tangani, tapi gereja sebatas lembaga tapi tidak punya daya yang besar,” ujarnya ketika tentang pelayanan kesehatan.

“Puskesmas ada satu, tapi petugas tidak ada. Tidak ada kunjungan petugas medis secara berkala,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia mengatakan Korowai, adalah daerah yang sangat terpencil dimana sebagian besar masyarakatnya masih hidup primitif.

“Korowai adalah daerah terpencil, daerah yang belum ada penetapan batas wilayah dari Kabupaten Asmat, Pegunungan Bintang, Mappi, Boven Digul atau Yahukimo. Ini perlu menetapkan batas wilayah, masuk di wilayah mana,” kata dia.

Lebih lanjut, Norberd mengatakan demo tersebut bertujuan menuntut pemerintah segera menentukan batas wilayah dan membentuk tim terpadu agar persoalan pendidikan dan kesehatan Korowai segera ditangani.

Terkait persoalan pendidikan, ia mengatakan masyarakat membutuhkan pelayanan dibidang pendidikan agar wawasan masyarakat semakin terbuka.

“Masyarakat masih primitive, mereka tidak tahu sekolah itu apa. Kami berharap ada tenaga medis, paramedis dan tenaga pengajar yang dikirim,” pungkasnya (YA)

Beri Komentar

%d bloggers like this: