IDM Nilai Ada Agenda Gelap Jatuhkan Nama Baik PT DI

Megapolitan.co

Jakarta – Direktur Kajian Kebijakan Industri dan Teknologi Indonesia Development Monitoring (IDM) Chaerudin Affan, SE menyesalkan adanya pihak yang diduga sengaja ingin ‘membusukan’ PT Dirgantara Indonesia (PT DI/Persero) terkait masalah pesanan dan produksi Pesawat di PT DI.

Affan menjelaskan, bahwa dalam beberapa bulan ini diduga ada pihak yang sengaja melakukan kampanye hitam terhadap kinerja PTDI dalam masalah pesanan dan produksi pesawat. Ia menduga hal itu dilakukan oleh pihak barisan karyawan PTDI yang sakit hati, karena tersingkirkan akibat tidak bisa lagi melakukan pratek korupsi, kolusi dan nepotisme ( KKN) di PTDI diera Direksi yang ada saat ini.

“Jangan sampai karena, akibat ulah seorang pekerja PTDI yang dahulu diduga menjadi otak utama yang melakukan PHK massal, hingga PT DI dipailitkan, kembali lagi terjadi pada saat ini,” kata Affan kepada wartawan, Senin (13/3/2017).

Dia menyebutkan, bahwa sejatinya Direksi PT DI yang saat ini telah melakukan berbagai langkah pembenahan terutama di sektor finansial, operasional, Sumber Daya Manusia (SDM) dan teknologi informasi guna menjadikan PTDI yang transparan dan profesional.

“Saya menduga ada kelompok barisan sakit hati yang sengaja meyebarkan data- data yang direkayasa tentang berbagai masalah yang menyudutkan manajemen PTDI ke DPR ,artinya DPR telah ditipu oleh kelompok tersebut,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, kinerja PT DI saat ini sudah mengalami perubahan yang lebih baik daripada sebelumnya, “Salah satu adalah penerapan delivery yang tepat waktu baik untuk pesawat dan helikopter untuk customer dalam dan luar negeri dengan fasilitas yang jauh dari lengkap dibandingkan saat para karyawan barisan sakit hati PTDI yang duduk di posisi posisi strategis saat itu,” ujarnya.

Bahkan, contohnnya adalah penyerahan helikopter Bell412EP pesanan TNI AD dan POLRI/Polud yang tepat waktu; penyerahan CN295 TNI AU yang bahkan mendahului jadwal dalam Kontrak; penyerahan CN235-220 MPA TNI AL yang tepat waktu; dan penyerahan CN235-220 ke Afrika yang tepat waktu.

Lebih lanjut, dalam pemberitaan sebuah media nasional ternama, dikatakan adanya kerugian negara akibat denda keterlambatan sebesar Rp3,3 Milyar sebagai temuan BPK tahun 2015 yang diduga sebelumnya tidak dikonfirmasi terlebih dahulu kepada PTDI.

“Oleh sebab itu dapat kami katakan hal tersebut adalah tidak benar adanya karena tidak ada temuan terkait hal tersebut pada tahun 2015. Maka memang terdapat denda sebesar Rp.3,3 Milyar atas kontrak tahun 2006 yang sudah langsung dibayarkan setelah helikopter (Bell412 TNI AL) diserahkan pada tahun 2008,” jelasnya.

Karenanya, ia berharap agar masyarakat agar tetap memberikan dukungan dan kepercayaan terhadap PT DI yang selama ini telah menjadikan satu-satunya industri pesawat terbang di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara.(DVD)

Ingin Tahu Lebih Banyak Soal Kota Bekasi?

Kami Kabarkan Berita Terbaru Seputar Kota Bekasi Langsung ke Gadget Anda.

Invalid email address
Anda Bisa Berhenti Berlangganan Kapan Saja Tanpa Biaya

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: