Pasutri Produsen Vaksin Palsu Divonis 12 Tahun Penjara

Megapolitan.co

BEKASI – Jaksa Penuntut Umum menuntut pasangan suami istri pembuat vaksin palsu, Rita Agustina dan Hidayat Taufiqurrahman dengan hukuman penjara selama 12 tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum, Andi Adikawira dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Bekasi, Senin (6/3), menyatakan bahwa Rita dan Hidayat bersalah sesuai dengan pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009.

“Dituntut hukuman penjara selama 12 tahun, dan denda masing-masing Rp 300 juta, subsider enam bulan penjara,” kata dia usai sidang di Pengadilan Negeri Bekasi, Senin (6/3/2017).

Menurut Andi, tuntutan tersebut mempertimbang fakta-fakta persidangan yang digelar sebelumnya. Jaksa sebelumnya menghadirkan sejumlah saksi seperti kepolisian, Badan POM, Kemenkes, Ahli Pidana, PT. Biomarma, PT. Aventis, GSK, perusahaan swasta, sejumlah terdakwa yang menjadi saksi.

“Dari sejumlah saksi, secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kesehatan,” kata dia.

Dalam dakwaan, Pasangan suami – istri terdakwa kasus vaksin palsu, Hidayat Taufiqurroham dan Rita Agustina didakwa memproduksi lima jenis vaksin palsu sejak 2010 hingga Juni 2016 di rumahnya di Perumahan Kemang Pratama Regency, Jalan Kumala II Blok M29 RT 9 RW 35, Rawalumbu, Kota Bekasi.

Tercatat, vaksin yang dipalsukan ialah jenis Pediacel, Tripacel, Engerix B, Havrix 720, dan Tuberculin.

Tak lama selepas sidang usai, Rita menangis histeris begitu meninggalkan ruangan sidang Tirta II di lantai dua. Bahkan, sempat “ndeprok” di tangga, dan menangis histeris, meminta ampun.

“Astaghfirullah, besar sekali cobaan saya. Bagaimana dengan anak-anak saya, enggak bisa melihat mamanya hingga besar,” ujar Rita menangis di pelukan suaminya, Senin (6/3/2017).

Rita kemudian dituntun turun oleh Jaksa dan suaminya masuk ke ruang tahanan di lantai dasar, sambil terus terisak.

Rita Agustina dan Hidayat Taufiqurrahman dituntut hukuman penjara selama 12 tahun dan denda masing – masing Rp 300 juta subsider kurungan penjara selama enam bulan.

Menurut Jaksa, keduanya terbukti meyakinkan dan dianggap dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar.

Karena itu, Rita dan Hidayat dianggap bersalah melakukan tindak pidana kesehatan sesuai dengan pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. (Yd)

Beri Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: